« Home | LARANGAN MEROKOK MEMBLE » | SMS Lebaran » | Kadaluarsa » | Keselek biji kedondong » | SPAM dan seni menempel » | LUBANG » | Operasi Plastik » | Sebarkan semangat solidaritas » | Namanya Asih » | Virus abang » 

Tuesday, November 21, 2006 

JAKARTA seperti Ibu Jari


Setelah menyaksikan dengan mata yang masih ada dikepala dan gambaran dimana-mana baik didepan Monas hingga di Ujung Aspal Pondokgede Jakarta timur, ternyata JAKARTA masih tetap sebagai Ibu Kota Negeri ini yaitu Indonesia.  Meskipun Bandara Soekarno Hatta tidak berada di Ibu kota tetapi Halim Perdana Kusuma masih berpijak di Jakarta dan merupakan Bandara kenegaraan yang sejuk dipandang mata.

Empat ratus tujuh puluh sembilan usia kota Jakarta di tahun ini, itu terlihat terutama di kawasan Kota Tua Jakarta Kota. Hampir semua bangunan di Kota Tua bergaya arsitektur kuno.  Bandingkan dengan usia negeri ini yang masih enam puluh satu tahun merdeka dari penjajahan.

Sebagai kota Metropolitan, kota terbesar, kota dengan beragam suku warganya, menyandang sebagai Ibu kota, yang berarti kota percontohan bagi kota-kota lainnya di negeri ini.   Kota ini masih berbenah diri dengan transportasinya, fasilitas umum, kebudayaan juga hutan betonnya. Jakarta masih terlihat sempurna dalam genggaman jemari.

Jakarta sebagai Ibu Kota bisa menjadikan referensi terhadap permasalahan di negeri ini pada umumnya, masih banyak kita temukan kriminalitas dimana-mana, pelanggaran transportasi secara umum, pengemis dan anak-anak dibawah umur masih banyak berkeliaran di perempatan jalan, mudahnya menemukan tempat khusus untuk para perokok daripada tempat khusus untuk ibu-ibu menyusui, dan seabrek tatanan hukum yang tidak berfungsi dengan semestinya.   Inilah Jakarta.

Kota nomer satu, tercepat, tersibuk, kota "JEMPOL" dalam penilaian dan beragam permasalahan terjadi didalamnya. Misalnya, jalan tol yang harusnya jalan bebas hambatan tetapi justru sebagai jalan banyak hambatan. Pembangunan jalan umum semisal fly over, underpass, bukannya memperlancar arus lalu lintas tetapi malah menghambat karena pekerjaan pembangunan yang molor. Masih banyak kekurangannya di kota ini, kita lihat Jakarta sebagai ibu kota belum beranjak dewasa dalam menata kedisiplinannya, banyak angkutan umum yang berhenti "Ngetem" berlama-lama di rambu larangan berhenti meskipun di depannya ada petugas Polisi ataupun DLLAJ, bahkan yang paling aneh angkutan umum menurunkan penumpang di tengah jalan juga menurunkan tidak sampai tujuan.

Maling teriak maling marak dikota ini, perampokan dengan senapan genggam, pemalakan, copet, kejahatan dalam Taksi, hingga kecemasan dan ketakutan warga untuk keluar malam. Sebutlah Jakarta, kota dengan kesibukannya hingga membuat terlena penegak hukum dan Perda (Peraturan Daerah) sebagai pajangan Lemari milik Gubernur.

Mandulnya paradigma hukum mengakibatkan rusaknya pilar kota tersebut dan ditambah lembeknya kepemimpinan akan menyuburkan naluri kebiadaban di kalangan masyarakat. Hanya sekian persen trotoar di Jakarta berfungsi dengan semestinya karena perampasan para PKL, hingga pinggir kali / sungai dijadikan rumah permanen. Fakta berkata, hak penyandang cacat sangat-sangat sulit dalam mengakses fasilitas publik di kota Jakarta ini.

Alih-alih memerangi pelanggar dengan Perda / Pergub, yang terjadi justru melestarikan pelanggaran yang berkelanjutan. Bukan mengentaskan tetapi semakin menetaskan. Kita lihat lagi birokrasi untuk pengurusan kartu tanda penduduk, surat izin mengemudi, akta kelahiran, paspor dan lainnya di Jakarta, sangatlah berbelit-belit.   Pantas bila salah satu iklan di televisi selalu menyuarakan dengan lantang akan hitam - putih dan berbunyi TANYA KENAPA ?

Inilah gambaran Jakarta sebagai ibu kota dan merupakan bopeng dari negeri ini yaitu Indonesia Negara Katulistiwa yang kaya, adil, makmur aman sentausa.

wah repot juga ya hdp di jkt...
ente pindah aja ke jogja..or smrng...hehehe

wah mas ONO kalo dah bicara jakarta itu saya mulai pusing emosi dan terbanyang sebuah kumpulan manusia yang super cuex, rasis dan antagonis, dan gak ada sebuah kegitan manusia yang ujungnya keluar dari yang namanya DUIT.. IBU KOTA yang sangat tidak pantas di jadikan ibu kandung,, salah desain,, namanya manusia itu ,, duit sebenarnya untuk alat transakssi dan berputaranya kehidupan ekonomi ,, tapi di jakarta DUIT jadi TUHAN.. 9 dari 10 pernyataan orang hidup dan ingin tinggal di jakrta adalah karena DUIT,, Behhh ,...mas ono ki-- koki juga yaa.. asik sih mas tambah info nyata dari rekan-rekan yang di luar negri

nginep di Jakarta satu minggu aja bulan Juni lalu ... Tapi dah cukup bikin TOBATTTTT ....

Macetnya jalan bikin STRESSSSSSSSS ...

Demi menghindari macet, limo dikorbankan. Ojeg jadi pilihan .... Byarin .... yang penting nggak kelamaan nunggui jalan kayak siput ... bikin otak jadi stress !!!

Itulah makanya aku mo pindah.
Ke Sidoarjo. :)

Walau begitu, tetapi kenapa ya kok aku sering kangen ke Jkt ya? Mungkin karna banyak temenku ada disana....

Mungkin selayaknya ibukota dipindah saja...

ono opo iki ono opo iki kok pada nesu niki kepriwe?ada apa toh ada apa toh?:)

Tapi walau begitu, aku kok selalu pengen balik ke Jakarta yah..

Wah sampeyan care tenan karo Jakarta, postingannya banyak yg tentang Jakarta :)

Hai! Barusan salah kirim komen? :p
Habis cek di email niy.
Rada bingung jg gak tau maksud Anda. :)
Tp gpp. Met pageee, Pak...

*Mrs. In Repair :p*

Woii .. turu waee.. di entini postingane kok malah rametu2..simbah ki nek arep siuk ngeneki Patrolii

Mudah2an nasib jakarta dan kota2 lainnya bisa lebih baik di 2007. Selamat liburan dan tahun baru :D

Post a Comment

Links to this post

Create a Link