
Setelah menyaksikan dengan mata yang masih ada dikepala dan gambaran dimana-mana baik didepan Monas hingga di Ujung Aspal Pondokgede Jakarta timur, ternyata JAKARTA masih tetap sebagai Ibu Kota Negeri ini yaitu Indonesia. Meskipun Bandara Soekarno Hatta tidak berada di Ibu kota tetapi Halim Perdana Kusuma masih berpijak di Jakarta dan merupakan Bandara kenegaraan yang sejuk dipandang mata.
Empat ratus tujuh puluh sembilan usia kota Jakarta di tahun ini, itu terlihat terutama di kawasan Kota Tua Jakarta Kota. Hampir semua bangunan di Kota Tua bergaya arsitektur kuno. Bandingkan dengan usia negeri ini yang masih enam puluh satu tahun merdeka dari penjajahan.
Sebagai kota Metropolitan, kota terbesar, kota dengan beragam suku warganya, menyandang sebagai Ibu kota, yang berarti kota percontohan bagi kota-kota lainnya di negeri ini. Kota ini masih berbenah diri dengan transportasinya, fasilitas umum, kebudayaan juga hutan betonnya. Jakarta masih terlihat sempurna dalam genggaman jemari.
Jakarta sebagai Ibu Kota bisa menjadikan referensi terhadap permasalahan di negeri ini pada umumnya, masih banyak kita temukan kriminalitas dimana-mana, pelanggaran transportasi secara umum, pengemis dan anak-anak dibawah umur masih banyak berkeliaran di perempatan jalan, mudahnya menemukan tempat khusus untuk para perokok daripada tempat khusus untuk ibu-ibu menyusui, dan seabrek tatanan hukum yang tidak berfungsi dengan semestinya. Inilah Jakarta.
Kota nomer satu, tercepat, tersibuk, kota "JEMPOL" dalam penilaian dan beragam permasalahan terjadi didalamnya. Misalnya, jalan tol yang harusnya jalan bebas hambatan tetapi justru sebagai jalan banyak hambatan. Pembangunan jalan umum semisal fly over, underpass, bukannya memperlancar arus lalu lintas tetapi malah menghambat karena pekerjaan
pembangunan yang molor. Masih banyak kekurangannya di kota ini, kita lihat Jakarta sebagai ibu kota belum beranjak dewasa dalam menata kedisiplinannya, banyak angkutan umum yang berhenti
"Ngetem" berlama-lama di rambu larangan berhenti meskipun di depannya ada
petugas Polisi ataupun DLLAJ, bahkan yang paling aneh angkutan umum menurunkan penumpang di tengah jalan juga menurunkan tidak sampai tujuan.
Maling teriak maling marak dikota ini, perampokan dengan senapan genggam, pemalakan, copet, kejahatan dalam Taksi, hingga kecemasan dan ketakutan warga untuk keluar malam. Sebutlah Jakarta, kota dengan kesibukannya hingga membuat terlena penegak hukum dan Perda (Peraturan Daerah) sebagai pajangan Lemari milik Gubernur.
Mandulnya paradigma hukum mengakibatkan rusaknya pilar kota tersebut dan ditambah lembeknya kepemimpinan akan menyuburkan naluri kebiadaban di kalangan masyarakat. Hanya sekian persen trotoar di Jakarta berfungsi dengan semestinya karena perampasan para PKL, hingga pinggir kali / sungai dijadikan rumah permanen. Fakta berkata, hak penyandang cacat sangat-sangat sulit dalam mengakses fasilitas publik di kota Jakarta ini.
Alih-alih memerangi pelanggar dengan Perda / Pergub, yang terjadi justru melestarikan pelanggaran yang berkelanjutan. Bukan mengentaskan tetapi semakin menetaskan. Kita lihat lagi birokrasi untuk pengurusan kartu tanda penduduk, surat izin mengemudi, akta kelahiran, paspor dan lainnya di Jakarta, sangatlah berbelit-belit. Pantas bila salah satu
iklan di televisi selalu menyuarakan dengan lantang akan hitam - putih dan berbunyi
TANYA KENAPA ?Inilah gambaran Jakarta sebagai ibu kota dan merupakan bopeng dari negeri ini yaitu Indonesia Negara Katulistiwa yang kaya, adil, makmur aman sentausa.