Monday, February 01, 2016 

Rai gedhek, muka tembok seperti beton


Kurang tahu apakah wajahku semirip tembok atau setebal beton, karena akhir tahun lalu tidak berubah sedikitpun rupa yang terlihat di cermin itu. Cermin kehidupan itulah yang memperlihatkan tingkah pola, perilaku, norma, perasaan, kejiwaan dan juga terlihat jelas didepan kaca spion bahkan cermin yang menempel di dinding itu.

Akan tetapi, akupun tidak bisa memungkiri bahwa Rai Gedhek memang ada dalam diri ini meskipun hanya samar-samar terlihat. Beruntung belum begitu jelas sehingga bisa memperbaikinya.

Memperbaiki kesalahan yang timbul akibat perilaku yang tidak baik bisa dilakukan sejak dini karena sifat manusia pada dasarnya adalah baik dan sifat manusia itupun tidak sempurna. Dengan tidak sempurnanya sifat tersebut maka kesalahan yang dilakukan sangat wajar sehingga kesadaran yang dimiliki tiap manusia akan muncul sehingga akan memperbaikinya. Lantas bagaimana bila tidak memiliki kesadaran sama sekali, itu namanya derajatnya turun menjadi serendah-rendah makhluk.

Nah sekarang sedang ngetrend akan keegoisan, terutama tokoh publik atau nama lainnya Publik Figur. Bukannya menjadi contoh tauladan yang baik bagi orang lain malah menjadi bahan tertawaan Publik. Kesalahan demi kesalahan dilakukan tanpa memiliki rasa kesadaran jiwa sehingga terjerumus ke perbuatan- perbuatan negatif yang merusak diri sendiri bahkan mungkin keluarganya karena perilakunya. Bisa diingatkan kembali bahwa manusia harus memiliki kesadaran setiap saat, apabila tidak bisa maka suatu waktu nanti akan menyadari sendiri meskipun sudah tidak berguna.

Trending akan Virus muka tembok atau tidak punya rasa malu merupakan pertanda akan matinya hati atau ruh manusia tersebut. Rai gedhek atau bahkan muka tembok timbul karena hati dan jiwanya terkikis sehingga hal-hal yang memalukan bisa dilakukan dengan terang-terangan bahkan keburukan dinilai sebagai sebuah kebaikan.

Semoga manusia yang masih memiliki rai gedhek, muka tembok seperti beton bisa menyadarinya sebelum nantinya malah keselek akan sikapnya.

Labels: ,

Wednesday, March 11, 2015 

Perilaku buruk pengendara motor

Dalam video ini seorang pemuda menyalahkan para pengendara motor yang mengendarai di trotoar dan melawan arah.






Perilaku buruk masih terjadi para pengendara motor di Jakarta dan bisa dibilang tidak memiliki budaya sopan santun, padahal Indonesia dikenal dengan masyarakat sopan dan santunnya.

Masih ingat dengan Taman Mini Indonesia Indah yang terletak di Jakarta Timur, TMII merupakan wajah Indonesia keseluruhan. Bagaimana dengan Jakarta sendiri, dikenal sebagai Ibu Kota Indonesia, kota Megapolitan, Jakarta yang tidak pernah tidur dan bermacam-macam orang, suku, budaya ada di Jakarta ini.

Jadi, bila ingin melihat wajah Indonesia keseluruhan bisa diwakili oleh Taman Mini Indonesia Indah, sedangkan budaya sopan santun dan toleransinya Anda bisa melihat di Jalanan Ibu Kota.

Jakarta sepi saat Lebaran.

Saturday, March 07, 2015 

DPRD DKI, Gubernur dan Taman Kanak-kanak

Mari berkunjung ke Taman Kanak-kanak dan rasakan sensasi kepolosan anak dalam berperilaku, bertutur kata hingga ungkapan-ungkapan yang mungkin kita tidak mudah menemukan jawaban di usianya. Dalam dunianya terdapat kepolosan dan kejujuran yang menggambarkan seorang anak yang memiliki perasaan suci. Kepolosan anak dalam berperilaku seringkali mengundang senyum bahkan tawa.


TK atau Taman Kanak-kanak adalah jenjang pendidikan anak usia dini yaitu usia 6 tahun atau dibawahnya.

Dan sekarang marilah berkunjung ke YouTube sebuah situs web berbagi video dengan kata pencarian Mediasi Gubernur Ahok dan DPRD dki - http://goo.gl/oda3F4 dan rasakan sensasi kekoplakan segelintir para anggota dprd dki dalam berperilaku, bertutur kata hingga ucapan-ucapan tak senonoh yang diperlihatkan. Dalam dunianya terdapat ambisi pribadi.

Dahulu, almarhum Gus Dur  pernah menyatakan anggota DPR "seperti" taman kanak-kanak dan terbukti juga ke DPRD DKI yang memperlihatkan perilakunya.

Kata "Seperti" berbeda makna dengan kata Sama. Anak-anak masih memiliki kepolosan, kejujuran dan memiliki perasaan suci, sedangkan sebagian anggota DPRD dki dalam mediasi Gubernur - DPRD dki hanya memiliki rasa kekoplakan.

Jangan pernah menyebut DPR mewakili rakyat bila perilakukanya masih koplak

Saturday, November 29, 2014 

Stop



Kembali ke bidang masing masing dan kembali bekerja dengan optimal sesuai porsinya, yang berpolitik jangan menjadi selebriti didalam layar kaca karena dilihat oleh anak anak juga generasi penerus, apalagi ibu ibu yang biasanya nonton infotainment. Marilah bekerja dengan suka cita, penuhi kerendahan hati dan bijaklah dalam menjalankan tugas.
Stop banyak bicara.

Tempat juga bidangnya sudah jelas, waktunya masih panjang dan permasalahan ada didepan mata untuk membenahinya. Pemerintah sudah memulai menjalankan tugasnya dalan BEKERJA.

Labels: , ,