Thursday, October 25, 2007 

Oktober mengikis sang musafir

Senandung "yesterday once more" mewarnai pandangan hampa.
Terkuak liku-liku kehidupan perantau di gemerlapnya lampu Metropolitan. Tiga, dua musim bahkan lebih terengkuh olehnya dengan hasrat pandangan ke depan. Suka duka tercermin dalam hatinya, hingga dilain tempat masih tergiang itu semua. Ingat kala terucap "seperti kemarin, sekarang, lusa, tiada bedanya" dan hati ini tersenyum bahkan tertawa mendengar itu. Rupanya sang waktu terus juga berputar meskipun tersangka diam. Tetapi kewajiban terus juga menuntutnya. Ah..... haruskah tertinggalkan dengan lajunya sang waktu. Hasrat tuk bersimpuh tiap lajunya sang waktu, gagal terbayang seirama yesterday.


Terbuka cendela, angin pagi pun masuk perlahan.
Ringan sang musafir melangkah tuk songsong hidup ini. Sandang keinginan dan cita yang terwujud dalam kesempurnaan, kepalsuan serta kerapuhan. Terlintas laju perjalanan, terkuak kesalahan dalam hati yang paling dalam. Sesal kala memberi dosa, terwujud keinginan tuk hapus keinginan.


Hati nurani ingin menyatu dalam suka duka, gagal dalam khayal ilusi. Terkubur masa lampau, nyata dalam bayang fatamorgana. Tenggelamnya Sang Surya terungkap bayang-bayang ilusi. Malam pun mengikutinya, selang terlintas kunang-kunang pancarkan pelangi yang sebatas fajar pagi. Menuang derita, tertumpahkan harapan serta menangguk keinginan.

Petualangan sang musafir terhenti disini.
Bayang nuraninya menghajar di bulan Oktober.
Rasa suka hilang dengan lajunya Oktober dan kiat iseng terkikis.

Thursday, December 28, 2006 

26 Desember

Sekali gempa di TAIWAN, manusia se-ASIA Pasific pada risau akan dunia MAYA.
Coba tengok 2 tahun yang lalu, di tanggal yang sama 26 Desember pula gempa hebat mampu menyisakan tangis di seluruh dunia.
BUMI semakin merana.

Terima kasih Nick-L, dirimu sudah menyadarkan fikiranku.





Tuesday, November 21, 2006 

JAKARTA seperti Ibu Jari

Setelah menyaksikan dengan mata yang masih ada dikepala dan gambaran dimana-mana baik didepan Monas hingga di Ujung Aspal Pondokgede Jakarta timur, ternyata JAKARTA masih tetap sebagai Ibu Kota Negeri ini yaitu Indonesia.  Meskipun Bandara Soekarno Hatta tidak berada di Ibu kota tetapi Halim Perdana Kusuma masih berpijak di Jakarta dan merupakan Bandara kenegaraan yang sejuk dipandang mata.

Empat ratus tujuh puluh sembilan usia kota Jakarta di tahun ini, itu terlihat terutama di kawasan Kota Tua Jakarta Kota. Hampir semua bangunan di Kota Tua bergaya arsitektur kuno.  Bandingkan dengan usia negeri ini yang masih enam puluh satu tahun merdeka dari penjajahan.

Sebagai kota Metropolitan, kota terbesar, kota dengan beragam suku warganya, menyandang sebagai Ibu kota, yang berarti kota percontohan bagi kota-kota lainnya di negeri ini.   Kota ini masih berbenah diri dengan transportasinya, fasilitas umum, kebudayaan juga hutan betonnya. Jakarta masih terlihat sempurna dalam genggaman jemari.

Jakarta sebagai Ibu Kota bisa menjadikan referensi terhadap permasalahan di negeri ini pada umumnya, masih banyak kita temukan kriminalitas dimana-mana, pelanggaran transportasi secara umum, pengemis dan anak-anak dibawah umur masih banyak berkeliaran di perempatan jalan, mudahnya menemukan tempat khusus untuk para perokok daripada tempat khusus untuk ibu-ibu menyusui, dan seabrek tatanan hukum yang tidak berfungsi dengan semestinya.   Inilah Jakarta.

Kota nomer satu, tercepat, tersibuk, kota "JEMPOL" dalam penilaian dan beragam permasalahan terjadi didalamnya. Misalnya, jalan tol yang harusnya jalan bebas hambatan tetapi justru sebagai jalan banyak hambatan. Pembangunan jalan umum semisal fly over, underpass, bukannya memperlancar arus lalu lintas tetapi malah menghambat karena pekerjaan pembangunan yang molor. Masih banyak kekurangannya di kota ini, kita lihat Jakarta sebagai ibu kota belum beranjak dewasa dalam menata kedisiplinannya, banyak angkutan umum yang berhenti "Ngetem" berlama-lama di rambu larangan berhenti meskipun di depannya ada petugas Polisi ataupun DLLAJ, bahkan yang paling aneh angkutan umum menurunkan penumpang di tengah jalan juga menurunkan tidak sampai tujuan.

Maling teriak maling marak dikota ini, perampokan dengan senapan genggam, pemalakan, copet, kejahatan dalam Taksi, hingga kecemasan dan ketakutan warga untuk keluar malam. Sebutlah Jakarta, kota dengan kesibukannya hingga membuat terlena penegak hukum dan Perda (Peraturan Daerah) sebagai pajangan Lemari milik Gubernur.

Mandulnya paradigma hukum mengakibatkan rusaknya pilar kota tersebut dan ditambah lembeknya kepemimpinan akan menyuburkan naluri kebiadaban di kalangan masyarakat. Hanya sekian persen trotoar di Jakarta berfungsi dengan semestinya karena perampasan para PKL, hingga pinggir kali / sungai dijadikan rumah permanen. Fakta berkata, hak penyandang cacat sangat-sangat sulit dalam mengakses fasilitas publik di kota Jakarta ini.

Alih-alih memerangi pelanggar dengan Perda / Pergub, yang terjadi justru melestarikan pelanggaran yang berkelanjutan. Bukan mengentaskan tetapi semakin menetaskan. Kita lihat lagi birokrasi untuk pengurusan kartu tanda penduduk, surat izin mengemudi, akta kelahiran, paspor dan lainnya di Jakarta, sangatlah berbelit-belit.   Pantas bila salah satu iklan di televisi selalu menyuarakan dengan lantang akan hitam - putih dan berbunyi TANYA KENAPA ?

Inilah gambaran Jakarta sebagai ibu kota dan merupakan bopeng dari negeri ini yaitu Indonesia Negara Katulistiwa yang kaya, adil, makmur aman sentausa.

Monday, November 13, 2006 

LARANGAN MEROKOK MEMBLE

Perda DKI Jakarta No.2 Tahun 2005 dan Pergub No. 75 tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok "nyaris" tak dihiraukan warga, para perokok tidak menggubrisnya dan bahkan Perda tersebut dicuekin.

Kita tahu bahwa pembuatan suatu Perda tidak asal tulis dan membutuhkan waktu yang lama, analisa yang berkepanjangan hingga bisa dijadikan suatu Perda (Peraturan Daerah).   Sudah berjalan setahun lebih Pergub tersebut berlaku ;  Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Juni 2005 serta Diundangkan di Jakarta pada tanggal 23 Juni 2005.

Tetapi kenapa Pergub tersebut masih MEMBLE padahal Kawasan Dilarang Merokok sudah disosialisasikan baik di gedung bertingkat, perkantoran, mall, bandara, angkutan umum, dll dan bahkan proses persidangan bagi para pelanggar telah dilakukan.  Hal yang amat memalukan bahkan aneh bin ajaib bila Pemprov sendiri mengakui kalau penerapan larangan merokok tersebut belum berjalan secara maksimal.   Naah lho......

Sebetulnya yang MEMBLE siapa sih.... Pemerintah DKI, aparatnya yang katanya "tidak memadai" atau para Perokok yang sampai memble bibirnya karena merokok seperti kereta.   Berhasil tidaknya penerapan Pergub No 75/2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok tergantung kesungguhan gubernur dan jajarannya menegakkan aturan itu.