Thursday, May 05, 2016 

Maaf saya korupsi


Karena dengan perilaku tersebut membuat kerja semakin semangat dan semakin tinggi dosis untuk korupsi maka cara bicaraku akan semakin pelo hingga lupa bahkan pikun untuk mengingatkan tentang kebenaran. Jangan bicara kamus kebenaran atau kemakmuran, itu semua tidak ada dalam otak tumpulku karena makna akan kebusukan, memutarbalik bahkan merusak sudah menjadi hobi atau mainanku. Hanya keluarga dan teman yang bisa aku maafkan, itulah perilaku ku.

Memanusiakan Binatang dan Membinatangkan Manusia merupakan pola fikiranku, hanya keluargaku yang bisa aku manusiakan.

Jangan pernah me-maaf'kan aku karena dalam kamusku tidak ada kata atau kalimat maaf, dalam darahku mengalir darah maling yang selalu berjuang untuk melawan kejujuran. Bila ada pemimpin yang bersih, transparan, dan profesional akan aku sumpal dengan isu negatif. Budaya baru yang kami bangun jangan sampai terkikis oleh segelintir pemimpin yang bersih. Kami membangun budaya Korupsi berjamaah dengan susah payah, keluarga dan teman selalu mendukung langkah maju budaya kami, jangan memaafkan perilaku ku ini. Korupsi akan memperlancar jaringan dan menambah kualitas kerja kami.

-----

Nah.... itulah jahatnya para bandit berdasi sekarang ini, makin berani melawan pemimpin yang bersih dan memutar balik fakta, bahkan mempengaruhi para manusia yang tidak mengetahui.
Wajib hukumnya para koruptor dihukum berat, dimiskinkan serta dicabut hak politik dan mereka para bandit juga harus dipermalukan secara sosial.

Friday, March 04, 2016 

Menjaring calon


BIG spider


Pagi itu sangat nyaman untuk menikmati udara segar yang sejuk dengan kabut tebal di depan mata dan butiran embun pagi yang menempel pada jaring laba-laba terlihat indah, alam ini penuh dengan keajaiban.

Sejuknya udara pagi akan menjadi sesuatu yang sangat mahal bagi masyarakat di Ibukota Jakarta tentunya karena polusi asap dari kendaraan, itulah fungsi dari taman - pepohonan yang seharusnya diperbanyak di kota-kota besar agar bisa meminimalisir polusi udara.

Menjaring masyarakat yang peduli dengan alam sudah diperlihatkan oleh pemimpin negeri ini dengan melepas beberapa ekor burung di lingkungan Istana Kepresidenan Bogor. Pemimpin sudah mengisyaratkan.

Jaring pengaman pun sudah dibentuk untuk menjaga alam dan menjaga kelestarian lingkungan sehingga terciptanya keseimbangan ekosistem, salah satunya Perda Perlindungan Satwa Burung yaitu larangan menembak, membunuh satwa burung yang dilindungi, menangkap, merusak, memusnahkan sarang dan atau telur satwa burung yang dilindung.

Jika kita tidak mau menjaga alam dengan baik, suatu saat alam akan berlaku jahat pula pada kita.

Embun pagi perlahan menguap dari jaring serta tubuh laba - laba tersebut hingga kehidupan kembali bergerak. Tiba - tiba diseberang meja, alat komunikasi berbunyi hingga suara merdu terdengar perlahan untuk mengajak ngobrol seputar DKI tentang "Calon". Sayangnya sudah setahun tidak menjadi penduduk Jakarta dan berpindah ke Jawa, Hanya bisa Support yang bisa kuperlihatkan agar Independen selalu bisa mengisi dan menjaga alam biar lestari.

Independen sangat diperlukan khususnya DKI Jakarta karena Ibukota tersebut sangat rawan akan penyelewengan.

Labels: , , , ,

Monday, February 22, 2016 

Embun pagi di pojok Surabaya


https://www.flickr.com/photos/78606919@N06/25171326445/

Ketika ada banyak ruang putih dalam hati, disaat itu untuk menyesuaikan dari hitam ke putih sehingga nama tersebut menjadi inspirasi bagi wisata negara lain. Itulah Kampung Wisata Inspirasi Dolly yang dulu menjadi bekas lokalisasi prostitusi terbesar di Asia Tenggara. Dolly Alley closed, from black to white.

Wanita yang cerdas dan cepat menanggapi suatu permasalahan dan sosok itu dimiliki oleh pemimpin rakyat Surabaya yaitu Tri Rismaharini. Dengan ketulusannya dalam bekerja dan kebeningan hatinya untuk menata kotanya hingga sesuatu yang hitam bisa dirubah menjadi putih.

Semoga intelegensi embun pagi yang dimiliki pemimpin Surabaya bisa berbias ke Jakarta, yang sekarang ini sedang dalam penataan.

Labels: , ,

Monday, February 01, 2016 

Rai gedhek, muka tembok seperti beton


Kurang tahu apakah wajahku semirip tembok atau setebal beton, karena akhir tahun lalu tidak berubah sedikitpun rupa yang terlihat di cermin itu. Cermin kehidupan itulah yang memperlihatkan tingkah pola, perilaku, norma, perasaan, kejiwaan dan juga terlihat jelas didepan kaca spion bahkan cermin yang menempel di dinding itu.

Akan tetapi, akupun tidak bisa memungkiri bahwa Rai Gedhek memang ada dalam diri ini meskipun hanya samar-samar terlihat. Beruntung belum begitu jelas sehingga bisa memperbaikinya.

Memperbaiki kesalahan yang timbul akibat perilaku yang tidak baik bisa dilakukan sejak dini karena sifat manusia pada dasarnya adalah baik dan sifat manusia itupun tidak sempurna. Dengan tidak sempurnanya sifat tersebut maka kesalahan yang dilakukan sangat wajar sehingga kesadaran yang dimiliki tiap manusia akan muncul sehingga akan memperbaikinya. Lantas bagaimana bila tidak memiliki kesadaran sama sekali, itu namanya derajatnya turun menjadi serendah-rendah makhluk.

Nah sekarang sedang ngetrend akan keegoisan, terutama tokoh publik atau nama lainnya Publik Figur. Bukannya menjadi contoh tauladan yang baik bagi orang lain malah menjadi bahan tertawaan Publik. Kesalahan demi kesalahan dilakukan tanpa memiliki rasa kesadaran jiwa sehingga terjerumus ke perbuatan- perbuatan negatif yang merusak diri sendiri bahkan mungkin keluarganya karena perilakunya. Bisa diingatkan kembali bahwa manusia harus memiliki kesadaran setiap saat, apabila tidak bisa maka suatu waktu nanti akan menyadari sendiri meskipun sudah tidak berguna.

Trending akan Virus muka tembok atau tidak punya rasa malu merupakan pertanda akan matinya hati atau ruh manusia tersebut. Rai gedhek atau bahkan muka tembok timbul karena hati dan jiwanya terkikis sehingga hal-hal yang memalukan bisa dilakukan dengan terang-terangan bahkan keburukan dinilai sebagai sebuah kebaikan.

Semoga manusia yang masih memiliki rai gedhek, muka tembok seperti beton bisa menyadarinya sebelum nantinya malah keselek akan sikapnya.

Labels: ,