Thursday, January 29, 2004 

Kritikan pemerintah Jakarta

Berempat kita menikmati senandung RSD didalam Baleno merah, lirik SATU BINTANG DI LANGIT KELAM terucap bersama, :'Angkasa tanpa pesan merengkuh s'makin dalam. Berselimut debu waktu, ku menanti cemas.... Kau datang dengan sederhana, Satu bintang di langit kelam. Sinarmu rimba pesona dan ku tahu tlah tersesat,..... Sebelum tuntas lirik RSD terselesaikan, mobil terkena macet depan pintu kereta api Senen kurang lebih 50 meter. Lima belas menit menunggu antrian untuk menuju ke arah Atrium, pas didepan pintu kereta mobil berhenti lagi dikarenakan akan datang kereta api. Sambil menunggu kereta lewat, kami berdiskusi mengenai pekerjaan pembangunan proyek underpass Senen. Obrolan ringan ini terjadi karena mobil kami berhenti pas didepan pintu kereta juga sempat kami perhatikan jalan sebelum dan sesudah rel kereta api amatlah parah dalam tanda kutip habis di keruk tidak di rapikan lagi (diaspal mulus).  Masalah ini yang mengakibatkan semua kendaraan baik roda dua maupun roda empat memperlambat lajunya dan mungkin berhenti sejenak. BILA jalan tersebut mulus dan rapi pasti kendaraan yang akan lewat mempercepat lajunya serta kemacetan tidaklah terlalu panjang.

Apabila kita melihat kebelakang akan pembangunan underpass pramuka yang memakan waktu berbulan-bulan serta berakibat kemacetan setiap hari, maka seharusnyalah DPU yang memiliki gawe dalam proyek ini mengantisipasinya. Waktu pembangunan underpass Senen dijadwalkan 150 hari kalender yang berarti 5 bulan harus sudah selesai. Selesa dalam arti underpass senen sudah bisa dioperasikan. Kita tahu, sudah hampir tiga bulan pembangunan itu dilaksanakan dan bila diperhatikan secara seksama maka belumlah 50% pembangunan itu selesai. Akibatnya apa, rakyat jadi korbannya yaitu kemacetan yang dihadapi serta stress timbul pada tiap warga.

Kita sebagai warga DKI perlu memberikan masukan juga kritikan kepada DPU dan kontraktor PP (Pembangunan Perumahan) agar secepatnya menyelesaikan pembangunan underpass senen, bila perlu dikerjakan siang malam.  Ini semua hanyalah saran pribadi. Satu lagi yang perlu kita tahu bahwa kontrak kerja yang dilakukan Pemerintah dengan Swasta mempunyai aturan dan hukum. Sangsi apabila mengalami keterlambatan dalam salah satu proyek adalah membayar sekian persen dari nilai kontrak, mungkin besarnya lebih dari 25%. Kita tunggu saja bulan Maret, apakah PP bisa melaksanakan janjinya dalam pembangunan underpass senen. Ingat, nama yang dipertaruhkan lho.

Wassalam.

Sunday, January 18, 2004 

Pagi yang cerah di Jakarta

Pagi yang cerah di Jakarta dan pesona Monumen Nasional (Monas). Semalam, gerimis menerpa sebagian wilayah Jakarta dan pagi ini udara sejuk, bersih, segar bisa kurasakan di lingkungan Tugu Monas. Banyak warga ibu kota menikmati cuaca yang bersahabat ini juga para ibu-ibu senyum ceria menyaksikan anak balitanya lari kesana kemari bermain bola. Sayup-sayup terdengar alunan nada mengiringi langkah gerak para pesenam. Terkejut aku tiba-tiba penjual makanan, minuman menawarkan jualannya kepada semua orang. Aku mencoba membaca dan memperhatikan setiap kata yang terdapat pada papan pengumuman yang bunyinya "KENDARAAN RODA EMPAT/DUA DILARANG MASUK DAN TIDAK DIPERBOLEHKAN BERJUALAN DI LOKASI MONAS" dan para petugas keamanan yang lebih dari dua puluh orang tidak/kurang menjalankan tugasnya.

Setelah berolahraga di Monas, aku mencoba naik Busway dari Monas menuju Blok M dan kembali ke Kota. Hanya dibutuhkan waktu 20-30 menit x 2 perjalanan tersebut. Stress karena macet selama 3 tahun sedikit terobati dengan 30 menit tersebut.

Dalam perjalanan kucoba perhatikan asesori Bus yang terbilang mahal dan baru itu, dari peralatan transmitter, tape, kontrol pintu keluar masuk sampai tempat duduk sangat terasa kasar pembuatannya dan jauh beda dengan Bus PPD PATAS AC. Terlintas dibenak proyek 118 miliar.

Rasa bangga serta kepuasan kudapatkan di perjalanan dengan Busway, seketika itu sirna setelah tiba di kota. Stress dan rasa dongkol timbul diperjalanan berikutnya karena Trotoar yang seharusnya dikhususkan untuk pejalan kaki telah diserobot oleh pedagang kaki lima. Seandainya proyek berikutnya adalah Trotoarway !!!

Sunday, January 11, 2004 

Mentari menampakkan wujudnya

Mentari telah menampakkan wujudnya, bayang-bayang jalan jembatan segitiga senen terlihat nyata didepan mata dan asap kendaraan pun menerpa rupa hingga bola mata ini memerah. Dibawah jembatan tersebut bapak polisi tak henti-hentinya mengatur serta mengawasi kendaraan yang lalulalang dan sesekali meniupkan pluit kepada angkutan umum agar tidak terlalu lama berhenti menunggu penumpang.

Kucoba melangkahkan kaki ini ke taman depan Atrium, sangat disayangkan karena tanaman yang menghijau tumbuh subur tidak terawat sama sekali juga di sisi timur Atrium. Kemegahan dan keanggunan bangunan tersebut tak sebanding dengan lingkungannya. Baru kusadari langkah kaki ini telah berada di trotoar pasar senen depan jembatan. Seperti lenyap ditelan bumi apa yang ada disana yaitu trotoar yang kudambakan telah beralih fungsi, para pedagang kaki lima telah merebut fasilitas pejalan kaki.

Teringat PERDA yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah DKI tak berfungsi kembali, terbayang waktu dan tenaga untuk merumuskan PERDA tersebut, hingga terkulai lemas diri ini menyaksikan kesemrawutan yang diciptakan para pedagang kaki lima itu.