Thursday, September 28, 2006 

Keselek biji kedondong

Melintasi sisi pusat Jakarta disiang bolong, tidak kudapatkan kesunyian seperti kampung halaman.   Hilir mudik orang Metropolitan tanpa senyum dan terlihat tatapan wajah saling curiga, meninggalkan jejak gelombang-gelombang perang berkecamuk hingga aku seperti berada di tengah permainan itu.

Jakarta terlampau sibuk dengan urusan dunianya.

Dongkol, gondoq melintasi trotoar beton di sepanjang Kramat Raya
memperdengarkan ayunan sepatu pembungkus jempol kaki yang bolong
Isi kepala rupanya sedang melayang seperti layang-layang....
Karena kehilangan keberanian terhadang tiga preman jalanan

Detak jantung berdenyut tak terkontrol
tak ada kata terucap.. tubuh lelah ..
yang ada hanya duka dan kelam

Isi dompet beralih ke genggamannya
aku putuskan untuk diam
sementara alat komunikasi masih berada dalam saku
terdengar kalimat dari bibirnya, Ayo dong... keluarkan dong isinya dong...
tak sadar kuberucap, artinya apa dong....?
..... Keselek biji kedongdong.... tantang nafsunya.

Lukisan lukisan pada tiang beton yang menyangga jalan. aku lihat geliat dari yang membuat. tapi apa?
tak seperti aku melihat geliat yang keluar dari ucapannya....

Friday, September 08, 2006 

SPAM dan seni menempel

SPAM, dalam dunia maya memang keberadaannya sangat menyebalkan hingga dampak yang diakibatkan begitu terasa, baik waktu yang terbuang percuma, fasilitas penyimpanan semakin penuh dan bahkan jalur data sia sia terbuang.
Hingga kini , SPAM slalu tidak diinginkan bagi setiap penghuni dunia maya dikarenakan fungsinya yg sedikit mengganggu.
Tetapi Teknologi anti-SPAM sudah semakin maju dan selalu diperbarui.

Berakhir di dunia yang penuh dengan kecepatan serta tanpa batas, terulang kembali di dunia nyata ini yaitu dunia penuh dengan surga & neraka yang sesaat. Jika spam identik dengan "iklan" maka seni tempel lebih bersifat merusak.


Seni menempel "brosur-brosur asal tempel" disetiap dinding-dinding jalan, ditiang-tiang listrik, jembatan penyeberangan, dll merupakan tindakan yang tidak dibenarkan dan perbuatan pengrusakan tanpa ijin.  Bila Polantas Jakut akan menertibkan layar reklame bercahaya, bagaimana dengan tindakan Pemprov DKI akan brosur-brosur asal tempel.

Kita memang tidak tahu siapa siapa yang melakukan seni menempel tersebut ditiap-tiap dinding tetapi seharusnya pemprov bila serius untuk mau menertibkan maka tidak sulit karena nama, nomer telepon dll jelas jelas terlihat.

Bila pemprov kurang tegas dalam bertindak maka saatnya mengingatkan, memberikan masukan dan memberi contoh cara kerja yang baik dan benar.


STOP Iklan Asal Tempel