Tuesday, December 28, 2004 

Mendengar Informasi

Mendengar informasi dan menyaksikan berita di televisi tentang bencana Tsunami di ACEH, sangat menyedihkan dan bulukudukku berdiri, air matapun bercucuran karena taktahan penderitaan yg dialami saudara saudara kita di ACEH. Pagi, siang, malam tak henti kusaksikan berita di Metrotv.

Tidak bisa kubayangkan itu semua, sampai sampai untuk menulis ini saja tidak terfikirkan. MOHON bantuan teman-teman untuk menggalang dana, makanan, pengobatan atau apa saja yg bisa secepatnya dikirim ke ACEH.
MOHON dan MOHON bantuannya.

Sunday, December 12, 2004 

Di Tilang Polisi

Prasangka buruk sudah terjadi kala melewati terminal kampung melayu dikarenakan nyala lampu depan "motor" terkadang mati-hidup dan mati-hidup. Tenaga terkuras hanya untuk memperbaiki kinerja bola lampu motor.

Setelah melewati bawah jembatan serta lampu merah Cawang atas, perjalanan terhenti 50 meter sebelum Carrefour, dikarenakan motor besar milik polisi meluncur dari belakang. Berhenti sejenak laju kendaraan sebab bapak polisi memerintahkan untuk menepi. Jam dipergelangan tangan kiri tertuju ke angka 18.30 wib dan terdengar sayup-sayup suara dari bibir bapak polisi tersebut,: "mas, lampu depan mati dan tolong surat-suratnya".
Merasa tidak bersalah, kucoba menepuk-nepuk body lampu depan dan nyala lampu masih seperti semula yaitu mati dan hidup lagi. Mungkin bapak polisi tidak berkenan dengan tingkah laga ini untuk menepuk-nepuk body lampu maka bentakan sedikit keras terdengar juga,: "sudaaahh... lampunya mati begitu koq ditepuk-tepuk dan tolong keluarkan SIM serta STNK"

SIM dan STNK berpindah tangan, bapak polisi pun berkata,: "Mas tahu khan kesalahannya, lampu depan mati dan yg membonceng tidak memakai pelindung kepala ?". Merasa bersalah, aku pun hanya pasrah dan minta ditilang agar secepatnya bisa sampai rumah.
Bapak polisi menginformasikan kalau ditilang akan dikenakan dua sangsi yaitu lampu mati dan tanpa pelindung kepala. Akupun setuju karena memang begitu kenyataannya dan minta ditilang saja. Singkat kata, bapak polisi meminta uang 100 ribu karena ada dua pelanggaran dan akupun tidak mau serta tetap minta ditilang sebab memang didompet tidak selembarpun uang.

Mungkin karena keberanian aku agar ditilang, bapak polisi menyuruhku meminta ke temen. suara pelan terdengar lagi,: "sudah lima puluh ribu saja" dan temen hanya bilang,: "adanya dualima pak !?"
Empat lembar uang lima ribuan diserahkan ke bapak polisi, setelah dihitung hanya duapuluh, ucapanpun
terlontar juga,: "koq 20.000 ?"
Yang lima ribu untuk pegangan pak, jawab temenku.
Mengherankan, sempat-sempatnya bapak polisi tersebut memberi arahan yaitu apabila ditanya orang, bilang hanya ditanya surat-suratnya dan lengkap semua.

Ini sangat nyata yang aku alami dan sayangnya nama bapak polisi serta nomer polisi pada motor besarnya tidak aku catat. Kesalahan fatal !!!.
Sebetulnya dengan kejadian tersebut, keinginan untuk membuat rekaman melalui handycam akan kulakukan.
Caranya adalah berpura-pura membuat kesalahan dan yg membonceng menyimpan handycam dalam tas tersembunyi. Tingkah pola para polisi bisa terekam yg akhirnya adalah media kaca siap untuk menayangkan.
Keren lho rencana tersebut.
Tetapi jangan polisi saja yg direkam, Dephub perlu juga lho.

Monday, December 06, 2004 

Ngedumel sama Pemerintah Jakarta

Menelusuri jejak pembangunan underpass / flyover di kota Jakarta amatlah menyenangkan, menyesatkan dan bahkan mengharukan. Titik awal kesenangan memperhatikan proses pembangunan tersebut karena terpacu keingintahuan suatu proyek yg akan dikerjakan dan pada titik tertentu kesenangan tersebut menjadi trauma. Hal ini disebabkan lambatnya pekerjaan yg dihadapi para kontraktor sehingga suatu pengorbanan harus dilakukan antara masyarakat atau pihak kontraktor.

Suatu iklan pemerintah di media kaca selalu mendengungkan agar masyarakat harus hemat BBM, mencegah polusi, dahulukan yg cacat, buang sampah ketempatnya, dll. Himbauan yg patut diberi selamat, karena itu yg diinginkan masyarakat. Pertanyaannya, bagaimana saya bisa ........ ?!!

Menyesatkan, itu yg mungkin bisa aku komentari, kenapa ?
Pada titik tertentu pembangunan underpass/flyover akan mengorbankan masyarakat dari pada kontraktor itu sendiri, seharusnya itu dibalik dan memang kewajiban kontraktor harus mengorbankan waktunya, tenaganya dan bahkan anggarannya.   Bagaimana bisa hemat BBM kalau selalu terjadi macet yg berkepanjangan dilokasi proyek dan bahkan berakibat meluasnya kemacetannya. Andai saja suatu proyek untuk fasilitas umum dikerjakan siang malam, tenaga pekerja diperbanyak maka tidak sampai 2 tahun masyarakat mengalami stress dan boros BBM.
Bagaimana harus mencegah polusi di Jakarta ini kalau hapitatnya sudah dilanggar dan dirusak, oleh pemerintah DKI sendiri. Daerah resapan air sudah berubah menjadi pertokoan, perkantoran, mall. Ruang terbuka untuk umum hanya sekian persen yg tersedia. Angkutan umum seperti bis, metromini, angkot kecil yg tidak layak beroperasi (terseok-seok bila jalan, berasap hitam pekat) masih berada di jalan-jalan. Pesisir pantai berubah menjadi hunian rumah mewah. dll.

Mengharukan bila memperhatikan perda-perda yg ada tidak berjalan semestinya dan apakah memang sengaja dininabobokkan. Bagaimana tidak terharu kalau perda dengan nomer sekian melarang para PKL untuk berjualan di trotoar, kenyataannya ?

Terhenti disini.