Oktober mengikis sang musafir
Senandung "yesterday once more" mewarnai pandangan hampa.
Terkuak liku-liku kehidupan perantau di gemerlapnya lampu Metropolitan. Tiga, dua musim bahkan lebih terengkuh olehnya dengan hasrat pandangan ke depan. Suka duka tercermin dalam hatinya, hingga dilain tempat masih tergiang itu semua. Ingat kala terucap "seperti kemarin, sekarang, lusa, tiada bedanya" dan hati ini tersenyum bahkan tertawa mendengar itu. Rupanya sang waktu terus juga berputar meskipun tersangka diam. Tetapi kewajiban terus juga menuntutnya. Ah..... haruskah tertinggalkan dengan lajunya sang waktu. Hasrat tuk bersimpuh tiap lajunya sang waktu, gagal terbayang seirama yesterday.
Terbuka cendela, angin pagi pun masuk perlahan.
Ringan sang musafir melangkah tuk songsong hidup ini. Sandang keinginan dan cita yang terwujud dalam kesempurnaan, kepalsuan serta kerapuhan. Terlintas laju perjalanan, terkuak kesalahan dalam hati yang paling dalam. Sesal kala memberi dosa, terwujud keinginan tuk hapus keinginan.
Hati nurani ingin menyatu dalam suka duka, gagal dalam khayal ilusi. Terkubur masa lampau, nyata dalam bayang fatamorgana. Tenggelamnya Sang Surya terungkap bayang-bayang ilusi. Malam pun mengikutinya, selang terlintas kunang-kunang pancarkan pelangi yang sebatas fajar pagi. Menuang derita, tertumpahkan harapan serta menangguk keinginan.
Petualangan sang musafir terhenti disini.
Bayang nuraninya menghajar di bulan Oktober.
Rasa suka hilang dengan lajunya Oktober dan kiat iseng terkikis.




