Monday, February 27, 2006 

Gali lubang tutup lubang

Gali lubang tutup lubang, begitulah bila ada proyek penggalian PLN, Telkom, dan lain-lain.

Masyarakat selalu khawatir apakah kontraktor dari PLN, Telkom dan lainnya bisa mengembalikan seperti kondisi semula atau tidak trotoar atau jalan yang sudah digali tersebut. Hari ini ditutup lubang yang sudah tergali, seminggu kedepan instansi lain memiliki wewenang lagi untuk membongkar sesuatu yang sudah rapi bersih tersebut. GALI LUBANG TUTUP LUBANG.

Kurang Profesional dan tidak adanya koordinasi antara instansi Telkom, PDAM, PLN dan lainnya yang berakibat rusaknya sarana dan fasilitas untuk umum, alhasil masyarakat yang selalu menjadi korban.
Korban ketidak becusan cara kerja instansi juga minimnya koordinasi. TUTUP LUBANG lagi.

Buruk akibatnya bila tidak adanya sanksi dan teguran kepada instansi tersebut. Seharusnya setelah proyek selesai baik TELKOM, PLN, PDAM maupun instansi lainnya yang memiliki kepentingan maupun kontraktor galian memeriksa ulang "cek dan ricek" apakah galian sudah dikembalikan seperti semula dengan kondisi baik dan mulus, atau belum. Bila dirasa kurang sempurna perbaikan penggalian tersebut maka instansi terkait selayaknya menegur kontraktor. ATAU kita "masyarakat" yang harus menegur instansi tersebut ?!!! he..he...he nggak lucu deh.

Adakah wilayah Anda terkena penggalian yang seenaknya oleh instansi+kontraktor, silahkan menegur PU DKI agar instansi PU berfikir kedepan tentang rencana proyek yang baik dan profesional untuk umum.

      >> Terlihat

Sunday, February 12, 2006 

Kesenjangan tlah tercipta

Tak terasa bentangan hutan Beton yang kutelusuri perlahan dari Cawang hingga memasuki sunter berakhir di depan mall Artagading. Senyum bibir kelu menemani tiap jengkal putaran roda, terpaan asap hitam pekat mengepul dari bus kota membuat sekujur tubuh meradang hingga sisakan timbal timbal besi didalam rongga dada. Biasnya suara deringan mesin kendaraan masih terasa digendang pendengaran meskipun langkah ratu jalanan telah sirnah dipandangan mata.

Kerap hati kecil bertanya kepada teman teman di bawah hutan beton sebagai pelindung terik mentari dan rintik hujan, bertanya akan kemewahan, kemelaratan, kesewenangan hingga sisi kesehatan.
Tergagap kala tiap mulut berucap "aku harus mengais rupiah untuk jalani hidupku".
Bersandarkan waktu dan ditemani polusi, para sobat tak hentinya menunggu kemampuannya untuk diperlukan.


Kesenjangan tlah tercipta di negeri ini hingga hal yg mendasar akan pendidikan dan kesehatan tak terfikirkan serta menjadi menu terakhir dalam permainan argumentasi para pengelola negeri.